Perusahaan farmasi di dunia kini semakin fokus pada pemanfaatan sistem imun tubuh untuk melawan penyakit kanker. Mereka yakin, sistem kekebalan tubuh merupakan kunci untuk menaklukkan penyakit yang hingga kini belum ada obatnya itu.
Pengobatan dengan sistem imun tubuh atau disebut dengan imunoterapi kini dipandang sebagai solusi untuk kasus kanker dan dapat meningkatkan harapan dan kualitas hidup pasien. Kendati demikian, pengembangan terapi ini masih menghadapi kemungkinan efek samping dan biaya yang mahal.
Saat ini, para ilmuwan terus mendalami imunoterapi untuk 23 jenis kanker. "Percobaan yang membuktikan konsep ini sudah selesai dilakukan. Sehingga kami tidak perlu meyakinkan pasien bahwa ini adalah ide yang bagus," kata Ira Mellman, Wakil Presiden Riset Onkologi dari Genentech, perusahaan bioteknologi.
Saat ini, sudah ada obat imunoterapi yang mendapat persetujuan badan pengawas obat di negara-negara maju, misalnya saja Dendreon dan Yervoy produksi Bristol-Myers Squibb. Akan tetapi, harganya masih mahal.
Misalnya saja Yervoy yang dipakai untuk mengobati kanker kulit atau melanoma yang dibandrol 120.000 Dollar AS (sekitar 1 miliar rupiah) untuk regimen standar. Sementara itu, Provenge untuk kanker prostat harganya sekitar 93.000 Dollar AS (sekitar 830 juta rupiah).
Meski di negara maju obat itu dibiayai oleh asuransi, namun para ahli tidak yakin apakah dokter akan meneruskan pengobatan yang demikian mahal itu jika penyakit kankernya tidak bisa disembuhkan. Tujuan dari obat tersebut adalah memperpanjang usia pasien.
Obat-obatan kanker generasi sebelumnya, yakni terapi target yang sebenarnya cukup efektif hanya bisa menunda kekambuhan penyakit. Penggunaan obat ini juga dibayangi oleh resistensi penyakit serta tidak semua sel kanker dibersihkan. Oleh sebab itu, imunoterapi ini diharapkan dalam jangka panjang bisa menjadi solusi untuk menghentikan siklus ini.
Rabu, 15 Juni 2011
RI Yakin Target Pengendalian HIV/AIDS Tercapai
ndonesia menyatakan optimistis dapat mencapai target 2015 yang dituangkan dalam Deklarasi tentang HIV/AIDS, yaitu deklarasi politik yang dihasilkan dalam pertemuan tingkat tinggi di Markas Besar PBB di New York, akhir pekan lalu. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono meyakini, Indonesia bisa mencapai target itu, namun dengan syarat jika pemerintah pusat dan daerah memiliki tekad yang sama.
"Sekarang ini ada yang punya kepedulian tinggi, ada yang tidak. Sehingga hasilnya pun ada angka AIDS yang tinggi, seperti di Papua, ada yang rendah yaitu karena terkontrol dengan baik. Kalau dilakukan langkah-langkah yang nyata, saya berkeyakinan target-target global maupun nasional di daerah-daerah bisa tercapai di Indonesia," kata Menkokesra seperti dilansir Antara (14/6/2011). Menurutnya, Indonesia hingga kini menunjukkan kemajuan dalam menjalankan berbagai target menyangkut pencegahan dan pengendalian penularan HIV/AIDS. Kemajuan juga dialami dalam hal komposisi penyediaan dana untuk obat-obatan, yang saat ini bersumber 70 prosen dari dalam negeri dan 30 prosen dari bantuan luar negeri, termasuk Global Fund. Pertemuan Tingkat Tinggi selama tiga hari yang dihadiri 3.000 peserta, termasuk 30 kepala negara/pemerintahan, berakhir dengan menghasilkan "Political Declaration on HIV/AIDS: Intensifying our Efforts to Eliminate HIV/AIDS" dalam sidang Majelis Umum PBB.
Melalui deklarasi itu, untuk pertama kalinya negara-negara anggota PBB menetapkan target-target global, baik dalam upaya pencegahan maupun pengobatan.
Selain berisi komitmen global yang relatif ambisiius dalam meningkatkan upaya menghapuskan HIV/AIDS, deklarasi secara khusus juga menetapkan berbagai langkah yang akan ditempuh negara-negara untuk mencapai target tersebut.
Sebagai Ketua Delegasi RI di Pertemuan Tingkat Tinggi itu, Menko Kesra dalam pidatonya di Majelis Umum mengungkapkan masih banyak tantangan yang dihadapi Indonesia ke depan, termasuk masih tingginya ketidakpedulian tentang penyakit HIV/AIDS.
Untuk ke depan, ujarnya, Indonesia akan memberi perhatian lebih kepada tiga kalangan, yaitu perempuan, yang makin banyak terkena HIV positif; pria berisiko tinggi terkena HIV dan bekerja di tempat terpencil seperti pertambangan, perikanan, pertanian; serta kalangan muda berusia 15-24 tahun yang rentan terkena HIV karena gaya hidup mereka, menjadi pekerja seks atau penggunaan jarum suntik untuk narkoba.
Pengetahuan
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI, M. Subuh, mengungkapkan bahwa empat target nasional, yang didasarkan pada Millenium Development Goals (MDGs) 2015 dan Inpres 3/2010 menyangkut pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS di Indonesia, sebagian besar sudah berada dalam jalur yaitu dalam hal akses pengobatan, pemakaian kondom, serta prevelansi.
Namun, pengecualian terletak pada tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara penularan HIV/AIDS. "Kalau dilihat, dari 104 butir poin deklarasi itu, mungkin 80-90 persennya sudah bisa kita laksanakan... kecuali pengetahuan," katanya. Menurut Subuh, sampai akhir 2014 ditargetkan pengetahuan komprehensif masyarakat berusia di atas 15 tahun mencapai 95 persen. Namun sampai 2010, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), baru 11,6 prosen masyarakat usia tersebut yang memiliki pengetahun komprehensif tentang cara penularan HIV/AIDS.
Sebagai gambaran, hasil riset pengetahuan dasar dengan mengajukan tiga pertanyaan utama menyangkut HIV/AIDS, ungkap Subuh, menunjukkan 86,4 persen responden menjawab bahwa HIV AIDS dapat ditularkan melalui nyamuk, berjabatan tangan dan bekas minuman.
"Dari situ saja kita tau bahwa masyarakat tidak mengerti, belum paham, atau mempunyai stigmatisasi sehingga tidak mau tahu dengan cara penularannya," katanya.
Upaya peningkatan pengetahuan menurutnya akan terus didorong melalui pemerintah-pemerintah daerah. "Upaya untuk meningkatkan pengetahuan kita lakukan juga bersama-sama dengan dunia pendidikan. Sebagian juga mungkin bulan Juli (2011) ini sudah masuk dalam kurikulum mereka," tandasnya.
"Sekarang ini ada yang punya kepedulian tinggi, ada yang tidak. Sehingga hasilnya pun ada angka AIDS yang tinggi, seperti di Papua, ada yang rendah yaitu karena terkontrol dengan baik. Kalau dilakukan langkah-langkah yang nyata, saya berkeyakinan target-target global maupun nasional di daerah-daerah bisa tercapai di Indonesia," kata Menkokesra seperti dilansir Antara (14/6/2011). Menurutnya, Indonesia hingga kini menunjukkan kemajuan dalam menjalankan berbagai target menyangkut pencegahan dan pengendalian penularan HIV/AIDS. Kemajuan juga dialami dalam hal komposisi penyediaan dana untuk obat-obatan, yang saat ini bersumber 70 prosen dari dalam negeri dan 30 prosen dari bantuan luar negeri, termasuk Global Fund. Pertemuan Tingkat Tinggi selama tiga hari yang dihadiri 3.000 peserta, termasuk 30 kepala negara/pemerintahan, berakhir dengan menghasilkan "Political Declaration on HIV/AIDS: Intensifying our Efforts to Eliminate HIV/AIDS" dalam sidang Majelis Umum PBB.
Melalui deklarasi itu, untuk pertama kalinya negara-negara anggota PBB menetapkan target-target global, baik dalam upaya pencegahan maupun pengobatan.
Selain berisi komitmen global yang relatif ambisiius dalam meningkatkan upaya menghapuskan HIV/AIDS, deklarasi secara khusus juga menetapkan berbagai langkah yang akan ditempuh negara-negara untuk mencapai target tersebut.
Sebagai Ketua Delegasi RI di Pertemuan Tingkat Tinggi itu, Menko Kesra dalam pidatonya di Majelis Umum mengungkapkan masih banyak tantangan yang dihadapi Indonesia ke depan, termasuk masih tingginya ketidakpedulian tentang penyakit HIV/AIDS.
Untuk ke depan, ujarnya, Indonesia akan memberi perhatian lebih kepada tiga kalangan, yaitu perempuan, yang makin banyak terkena HIV positif; pria berisiko tinggi terkena HIV dan bekerja di tempat terpencil seperti pertambangan, perikanan, pertanian; serta kalangan muda berusia 15-24 tahun yang rentan terkena HIV karena gaya hidup mereka, menjadi pekerja seks atau penggunaan jarum suntik untuk narkoba.
Pengetahuan
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI, M. Subuh, mengungkapkan bahwa empat target nasional, yang didasarkan pada Millenium Development Goals (MDGs) 2015 dan Inpres 3/2010 menyangkut pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS di Indonesia, sebagian besar sudah berada dalam jalur yaitu dalam hal akses pengobatan, pemakaian kondom, serta prevelansi.
Namun, pengecualian terletak pada tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara penularan HIV/AIDS. "Kalau dilihat, dari 104 butir poin deklarasi itu, mungkin 80-90 persennya sudah bisa kita laksanakan... kecuali pengetahuan," katanya. Menurut Subuh, sampai akhir 2014 ditargetkan pengetahuan komprehensif masyarakat berusia di atas 15 tahun mencapai 95 persen. Namun sampai 2010, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), baru 11,6 prosen masyarakat usia tersebut yang memiliki pengetahun komprehensif tentang cara penularan HIV/AIDS.
Sebagai gambaran, hasil riset pengetahuan dasar dengan mengajukan tiga pertanyaan utama menyangkut HIV/AIDS, ungkap Subuh, menunjukkan 86,4 persen responden menjawab bahwa HIV AIDS dapat ditularkan melalui nyamuk, berjabatan tangan dan bekas minuman.
"Dari situ saja kita tau bahwa masyarakat tidak mengerti, belum paham, atau mempunyai stigmatisasi sehingga tidak mau tahu dengan cara penularannya," katanya.
Upaya peningkatan pengetahuan menurutnya akan terus didorong melalui pemerintah-pemerintah daerah. "Upaya untuk meningkatkan pengetahuan kita lakukan juga bersama-sama dengan dunia pendidikan. Sebagian juga mungkin bulan Juli (2011) ini sudah masuk dalam kurikulum mereka," tandasnya.
7 Olahraga yang Bikin Seksi
Jangan meremehkan manfaat olahraga untuk meningkatkan gairah seksual lho. Olahraga yang dilakukan secara teratur akan meningkatkan mood, membuat gairah lebih membara, dan tentunya membakar kalori sehingga Anda lebih pede saat memamerkan tubuh di hadapan pasangan.
Jika alasan di atas masih belum membuat Anda berniat untuk berolahraga, mungkin "olahraga seksi" layak untuk dicoba karena bisa membuat aksi Anda lebih "panas" saat di ranjang.
"Olahraga seksi akan membuat kita lebih menyesuaikan diri pada tubuh dengan cara yang sensual sehingga kita merasa lebih menerima dan tertarik kepada seks," kata Marianne Brandon, PhD, psikolog klinik dan seks terapis dari AS.
Berikut adalah cara membakar kalori dengan cara "seksi":
1. Tari Salsa
Jangan ragu turun ke lantai dansa dan menari salsa. Melakukan tari salsa selama 30 menit cukup membakar 200 kalori. Tak ada salahnya mengajak pasangan untuk berlatih bersama-sama. Gerakan-gerakan sensual dalam tarian ini tentu akan membuat Anda dan pasangan tak sabar menunggu waktu malam.
2. "Pole dancing"
Menari di tiang (pole dancing) kini bukan hanya untuk para penari erotis. Di pusat-pusat kebugaran tarian tiang ini sudah dimodifikasi menjadi salah satu varian senam aerobik. Walau gerakannya sedikit erotis, sebenarnya gerakan dalam pole dancing ini sangat efektif menguatkan otot. Pole dancing ini juga sering direkomendasikan Brandon untuk pasien wanita yang sedang mengalami penurunan libido.
3. Tari perut
Pesan utama yang bisa diambil dari tarian asal Timur Tengah ini adalah cintai tubuhmu apa adanya. Anda tidak perlu bertubuh langsing dengan pinggang bak gitar untuk terlihat seksi saat melakukan tari perut. Siapa pun bisa menari perut. Selain membuat Anda merasa seksi, dalam satu jam tari perut akan membuat 300 kalori terbakar.
4. "Hula hoop"
Olahraga ini bukan cuma untuk anak-anak. Selain menggoyangkan pinggul dengan hula hoop, Anda juga bisa mengombinasikan dengan gerakan lain. Lakukan secara teratur, bukan hanya lingkar pinggang yang akan berkurang, kegiatan ini juga akan membuat kita merasa lebih fun. "Ini akan membuat kita melihat citra tubuh secara lebih baik. Pada akhirnya kita akan lebih tertarik pada aktivitas seksual," kata Brandon.
5. Tari Zumba
Zumba sebenarnya berarti "bergerak dengan cepat". Tarian yang berasal dari Kolombia ini sedang menjadi tren di Amerika Serkat. Olahraga ini menggabungkan gerakan aerobik yang lincah dan dinamis dengan tarian Latin yang seksi serta gerakan tari hip-hop.
6. Tarian Bollywood
Tarian yang terinsipirasi dari Bollywood, India, ini sangat efektif membuat kita lebih berenergi sekaligus merasa seksi. Ditambah lagi kemampuannya membakar kalori hingga 200 kalori dalam 30 menit. Selain itu, kebanyakan tarian India bercerita tentang indahnya jatuh cinta atau kehilangan cinta. Anda juga bisa melakukan tarian ini di rumah dengan melihat video atau VCD senam Bollywood.
7. "Naked Yoga"
Berlatih yoga tanpa busana (naked yoga) sebenarnya hampir sama dengan yoga biasa, kecuali yang melakukannya tidak menggunakan selembar pakaian pun. Para pelaku yoga ini mengaku tanpa pakaian mereka merasa lebih rileks, tenang, dan melakukan gerakan lebih baik. Mereka juga mengatakan lebih mampu menghargai tubuh apa adanya.
Menurut Brandon, semua pose yoga, dilakukan dengan busana atau tidak, bermanfaat untuk membuka pinggul, paha, dan pelvis serta menguatkan otot dasar panggul. Jika dilakukan secara teratur, latihan ini akan menghasilkan orgasme yang lebih dalam.
Jika alasan di atas masih belum membuat Anda berniat untuk berolahraga, mungkin "olahraga seksi" layak untuk dicoba karena bisa membuat aksi Anda lebih "panas" saat di ranjang.
"Olahraga seksi akan membuat kita lebih menyesuaikan diri pada tubuh dengan cara yang sensual sehingga kita merasa lebih menerima dan tertarik kepada seks," kata Marianne Brandon, PhD, psikolog klinik dan seks terapis dari AS.
Berikut adalah cara membakar kalori dengan cara "seksi":
1. Tari Salsa
Jangan ragu turun ke lantai dansa dan menari salsa. Melakukan tari salsa selama 30 menit cukup membakar 200 kalori. Tak ada salahnya mengajak pasangan untuk berlatih bersama-sama. Gerakan-gerakan sensual dalam tarian ini tentu akan membuat Anda dan pasangan tak sabar menunggu waktu malam.
2. "Pole dancing"
Menari di tiang (pole dancing) kini bukan hanya untuk para penari erotis. Di pusat-pusat kebugaran tarian tiang ini sudah dimodifikasi menjadi salah satu varian senam aerobik. Walau gerakannya sedikit erotis, sebenarnya gerakan dalam pole dancing ini sangat efektif menguatkan otot. Pole dancing ini juga sering direkomendasikan Brandon untuk pasien wanita yang sedang mengalami penurunan libido.
3. Tari perut
Pesan utama yang bisa diambil dari tarian asal Timur Tengah ini adalah cintai tubuhmu apa adanya. Anda tidak perlu bertubuh langsing dengan pinggang bak gitar untuk terlihat seksi saat melakukan tari perut. Siapa pun bisa menari perut. Selain membuat Anda merasa seksi, dalam satu jam tari perut akan membuat 300 kalori terbakar.
4. "Hula hoop"
Olahraga ini bukan cuma untuk anak-anak. Selain menggoyangkan pinggul dengan hula hoop, Anda juga bisa mengombinasikan dengan gerakan lain. Lakukan secara teratur, bukan hanya lingkar pinggang yang akan berkurang, kegiatan ini juga akan membuat kita merasa lebih fun. "Ini akan membuat kita melihat citra tubuh secara lebih baik. Pada akhirnya kita akan lebih tertarik pada aktivitas seksual," kata Brandon.
5. Tari Zumba
Zumba sebenarnya berarti "bergerak dengan cepat". Tarian yang berasal dari Kolombia ini sedang menjadi tren di Amerika Serkat. Olahraga ini menggabungkan gerakan aerobik yang lincah dan dinamis dengan tarian Latin yang seksi serta gerakan tari hip-hop.
6. Tarian Bollywood
Tarian yang terinsipirasi dari Bollywood, India, ini sangat efektif membuat kita lebih berenergi sekaligus merasa seksi. Ditambah lagi kemampuannya membakar kalori hingga 200 kalori dalam 30 menit. Selain itu, kebanyakan tarian India bercerita tentang indahnya jatuh cinta atau kehilangan cinta. Anda juga bisa melakukan tarian ini di rumah dengan melihat video atau VCD senam Bollywood.
7. "Naked Yoga"
Berlatih yoga tanpa busana (naked yoga) sebenarnya hampir sama dengan yoga biasa, kecuali yang melakukannya tidak menggunakan selembar pakaian pun. Para pelaku yoga ini mengaku tanpa pakaian mereka merasa lebih rileks, tenang, dan melakukan gerakan lebih baik. Mereka juga mengatakan lebih mampu menghargai tubuh apa adanya.
Menurut Brandon, semua pose yoga, dilakukan dengan busana atau tidak, bermanfaat untuk membuka pinggul, paha, dan pelvis serta menguatkan otot dasar panggul. Jika dilakukan secara teratur, latihan ini akan menghasilkan orgasme yang lebih dalam.
Pertumbuhan Kota Picu Perkembangan DBD
Pertumbuhan penduduk dan ekonomi di negara berkembang, termasuk di kawasan ASEAN, memperbesar masalah demam dengue. Apalagi, perkembangan di sebagian besar negara berkembang belum diikuti infrastruktur dan sistem kesehatan masyarakat memadai.
Hal itu mengemuka dalam ASEAN Dengue Conference bertema ”Dengue is Everybody’s Concern, Causing Socio-Economic Burden, but It’s Preventable”, Selasa (14/6). Dalam kesempatan yang sama dilaksanakan Dialog Nasional Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Menteri Dalam Negeri dengan perwakilan pemerintah daerah.
Dalam makalahnya, Director Signature Research Program in Emerging Infectious Diseases Duke-NUS Graduate Medical School Singapore Duane J Gubler menyatakan, tren perubahan epidemi dengue merupakan tren global. Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk di ASEAN, mendorong pertumbuhan kawasan perkotaan dan perkembangan transportasi modern. Hal itu diikuti perpindahan penduduk, hewan, komoditas, dan patogen.
Berdasarkan kasus yang dicatat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terjadi peningkatan kasus demam dengue secara global, yakni dari 908 kasus di hampir 10 negara tahun 1955-1959 menjadi 1.016.612 kasus di hampir 60 negara tahun 2000-2009.
Di Indonesia, kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat sejak tahun 1968, dari puluhan kasus menjadi 155.777 kasus tahun 2010 dengan total kematian 1.358 orang. Rata-rata tingkat kejadian nasional 65,57 per 100.000 penduduk.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, peningkatan jumlah penduduk dan perubahan wilayah dari desa ke kota serta urbanisasi sering tidak diikuti dengan penataan kota yang baik.
Penyakit DBD tak lepas dari nyamuk sebagai vektor (pembawa) virus dengue. Daerah perkotaan yang kurang resapan air, padat, dan lingkungan yang tidak memerhatikan aspek kesehatan menjadi habitat nyamuk. Untuk itu, pemberantasan sarang nyamuk merupakan strategi utama.
Pemberantasan sarang nyamuk dan larva (jentik) juga menjadi strategi utama sejumlah negara di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei. Strategi itu diikuti manajemen penanganan kasus yang mengedepankan diagnosa tepat secepat mungkin.
Dalam dialog dengan para perwakilan pemda, Menkes mengatakan, penanganan demam dengue terbaik dengan pendekatan promotif dan preventif. Kota Mojokerto, misalnya, berhasil menurunkan angka kesakitan DBD lewat pemberantasan sarang nyamuk. Tahun 2004-2006 di Mojokerto selalu terjadi kejadian luar biasa. Angka kesakitan DBD 227 per 100.000 penduduk. Tahun 2010, setelah program berjalan, angka kesakitan turun menjadi 15 per 100.000 penduduk.
Uji coba vaksin Endang mengatakan, pengembangan vaksin DBD akan mengurangi angka kesakitan secara signifikan. Namun, manfaat vaksin baru akan dirasakan bertahun-tahun ke depan.
Seorang ahli yang terlibat dalam pengembangan vaksin oleh suatu produsen farmasi, Alain Bouckenooghe, menyatakan dalam makalahnya, pengembangan vaksin dengue dilakukan sejak tahun 1920. Sejumlah tantangan antara lain tidak adanya model binatang untuk demam dengue dan ada empat serotipe virus sehingga pembuatan vaksin rumit. Uji klinis untuk efikasi vaksin dilakukan tahun 2009 di Thailand. Uji klinis fase tiga dilakukan di sejumlah negara Asia.
Sehari sebelumnya, Ketua Tim Vaksinasi DBD DKI Jakarta dr Rini Sekartini mengatakan, dari 200 anak sekolah dasar yang jadi responden uji coba vaksin, baru 13 anak yang divaksinasi. Mereka bagian dari 800 penduduk Jakarta yang akan divaksinasi. Total penduduk Indonesia yang akan divaksinasi 2.000 orang. Negara lain tempat uji coba vaksin DBD adalah Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. (WIN/INE)
Hal itu mengemuka dalam ASEAN Dengue Conference bertema ”Dengue is Everybody’s Concern, Causing Socio-Economic Burden, but It’s Preventable”, Selasa (14/6). Dalam kesempatan yang sama dilaksanakan Dialog Nasional Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Menteri Dalam Negeri dengan perwakilan pemerintah daerah.
Dalam makalahnya, Director Signature Research Program in Emerging Infectious Diseases Duke-NUS Graduate Medical School Singapore Duane J Gubler menyatakan, tren perubahan epidemi dengue merupakan tren global. Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk di ASEAN, mendorong pertumbuhan kawasan perkotaan dan perkembangan transportasi modern. Hal itu diikuti perpindahan penduduk, hewan, komoditas, dan patogen.
Berdasarkan kasus yang dicatat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terjadi peningkatan kasus demam dengue secara global, yakni dari 908 kasus di hampir 10 negara tahun 1955-1959 menjadi 1.016.612 kasus di hampir 60 negara tahun 2000-2009.
Di Indonesia, kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat sejak tahun 1968, dari puluhan kasus menjadi 155.777 kasus tahun 2010 dengan total kematian 1.358 orang. Rata-rata tingkat kejadian nasional 65,57 per 100.000 penduduk.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, peningkatan jumlah penduduk dan perubahan wilayah dari desa ke kota serta urbanisasi sering tidak diikuti dengan penataan kota yang baik.
Penyakit DBD tak lepas dari nyamuk sebagai vektor (pembawa) virus dengue. Daerah perkotaan yang kurang resapan air, padat, dan lingkungan yang tidak memerhatikan aspek kesehatan menjadi habitat nyamuk. Untuk itu, pemberantasan sarang nyamuk merupakan strategi utama.
Pemberantasan sarang nyamuk dan larva (jentik) juga menjadi strategi utama sejumlah negara di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei. Strategi itu diikuti manajemen penanganan kasus yang mengedepankan diagnosa tepat secepat mungkin.
Dalam dialog dengan para perwakilan pemda, Menkes mengatakan, penanganan demam dengue terbaik dengan pendekatan promotif dan preventif. Kota Mojokerto, misalnya, berhasil menurunkan angka kesakitan DBD lewat pemberantasan sarang nyamuk. Tahun 2004-2006 di Mojokerto selalu terjadi kejadian luar biasa. Angka kesakitan DBD 227 per 100.000 penduduk. Tahun 2010, setelah program berjalan, angka kesakitan turun menjadi 15 per 100.000 penduduk.
Uji coba vaksin Endang mengatakan, pengembangan vaksin DBD akan mengurangi angka kesakitan secara signifikan. Namun, manfaat vaksin baru akan dirasakan bertahun-tahun ke depan.
Seorang ahli yang terlibat dalam pengembangan vaksin oleh suatu produsen farmasi, Alain Bouckenooghe, menyatakan dalam makalahnya, pengembangan vaksin dengue dilakukan sejak tahun 1920. Sejumlah tantangan antara lain tidak adanya model binatang untuk demam dengue dan ada empat serotipe virus sehingga pembuatan vaksin rumit. Uji klinis untuk efikasi vaksin dilakukan tahun 2009 di Thailand. Uji klinis fase tiga dilakukan di sejumlah negara Asia.
Sehari sebelumnya, Ketua Tim Vaksinasi DBD DKI Jakarta dr Rini Sekartini mengatakan, dari 200 anak sekolah dasar yang jadi responden uji coba vaksin, baru 13 anak yang divaksinasi. Mereka bagian dari 800 penduduk Jakarta yang akan divaksinasi. Total penduduk Indonesia yang akan divaksinasi 2.000 orang. Negara lain tempat uji coba vaksin DBD adalah Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. (WIN/INE)
Bisakah Hipnoterapi Hilangkan Beban?
TANYA :
Dok, saya ingin sekali di-hipnoterapi karena begitu banyak rahasia yang saya simpan sendiri dan saya takut untuk mengungkapkannya kepada orang- orang yang saya kenal. Bisakah hipnoterapi membuat saya terhindar dari beban itu, seperti saya sudah mengatakannya kepada masing-masing orang yang berhak mengetahuinya?
(RANI, 20, JAKARTA)
JAWAB :
Rani yang Baik,
Hipnoterapi dalam ilmu kedokteran jiwa atau psikiatri adalah bagian dari Psikoterapi. Hipnoterapi adalah salah satu pilihan psikoterapi selain dengan terapi kognitif dan perilaku, terapi interpersonal, psikoanalisis, terapi kelompok dan macam-macam lainnya. Hipnoterapi tidak selalu dilakukan untuk setiap orang, namun dilakukan jika pada pemeriksaan dengan menggunakan wawancara psikiatrik ditemukan bahwa pasien atau klien ini cocok dengan penggunaan hipnoterapi.
Orang yang melakukan hipnoterapi pun sepatutnya menguasai teknik-teknik psikoterapi dasar, ilmu diagnosis gangguan jiwa,ilmu perilaku manusia dan kesehatan jiwa. Hal ini agar hipnoterapi yang dilakukan bukanlah hanya sekedar merelaksasikan pikiran atau menambah input-input positif tanpa tahu dasar diagnosis pasien/klien.
Satu hal yang perlu diingat dan ini yang sering disalahpahami adalah bahwa Hipnoterapi bukanlah cara instan untuk melepaskan diri dari masalah di pikiran kita. Ini bukanlah cara instan yang bisa menjawab semua keadaan yang dialami oleh pikiran orang yang mengalami masalah. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui.
Jadi, bila Rani menginginkan hipnoterapi sebagai suatu cara untuk menghilangkan beban akibat rahasia-rahasia yang disimpan sepertinya konsep hipnoterapi yang dipahami Rani kurang tepat.
Dalam kondisi Rani, mungkin hipnoterapi bisa membantu Rani untuk lebih berani mengungkapkan rahasia kepada orang yang Rani anggap memang bisa memahami apa yang dialami Rani. Jadi ingat, sekali lagi bahwa hipnoterapi dalam hal ini bukan bersifat pasif dan bekerja sendiri, tapi memerlukan juga bantuan dari pasien/klien itu sendiri. Semoga jawaban ini bisa membantu.
Salam Sehat Jiwa.
Share
Dok, saya ingin sekali di-hipnoterapi karena begitu banyak rahasia yang saya simpan sendiri dan saya takut untuk mengungkapkannya kepada orang- orang yang saya kenal. Bisakah hipnoterapi membuat saya terhindar dari beban itu, seperti saya sudah mengatakannya kepada masing-masing orang yang berhak mengetahuinya?
(RANI, 20, JAKARTA)
JAWAB :
Rani yang Baik,
Hipnoterapi dalam ilmu kedokteran jiwa atau psikiatri adalah bagian dari Psikoterapi. Hipnoterapi adalah salah satu pilihan psikoterapi selain dengan terapi kognitif dan perilaku, terapi interpersonal, psikoanalisis, terapi kelompok dan macam-macam lainnya. Hipnoterapi tidak selalu dilakukan untuk setiap orang, namun dilakukan jika pada pemeriksaan dengan menggunakan wawancara psikiatrik ditemukan bahwa pasien atau klien ini cocok dengan penggunaan hipnoterapi.
Orang yang melakukan hipnoterapi pun sepatutnya menguasai teknik-teknik psikoterapi dasar, ilmu diagnosis gangguan jiwa,ilmu perilaku manusia dan kesehatan jiwa. Hal ini agar hipnoterapi yang dilakukan bukanlah hanya sekedar merelaksasikan pikiran atau menambah input-input positif tanpa tahu dasar diagnosis pasien/klien.
Satu hal yang perlu diingat dan ini yang sering disalahpahami adalah bahwa Hipnoterapi bukanlah cara instan untuk melepaskan diri dari masalah di pikiran kita. Ini bukanlah cara instan yang bisa menjawab semua keadaan yang dialami oleh pikiran orang yang mengalami masalah. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui.
Jadi, bila Rani menginginkan hipnoterapi sebagai suatu cara untuk menghilangkan beban akibat rahasia-rahasia yang disimpan sepertinya konsep hipnoterapi yang dipahami Rani kurang tepat.
Dalam kondisi Rani, mungkin hipnoterapi bisa membantu Rani untuk lebih berani mengungkapkan rahasia kepada orang yang Rani anggap memang bisa memahami apa yang dialami Rani. Jadi ingat, sekali lagi bahwa hipnoterapi dalam hal ini bukan bersifat pasif dan bekerja sendiri, tapi memerlukan juga bantuan dari pasien/klien itu sendiri. Semoga jawaban ini bisa membantu.
Salam Sehat Jiwa.
Share
Mengapa Berhenti Merokok Bikin Gemuk?
Bukan rahasia lagi jika pecandu rokok yang ingin menghentikan kebiasaan buruknya itu sering mengeluh berat badannya bertambah. Ternyata hal itu berkaitan dengan kemampuan nikotin mengganggu sel di otak yang bertugas memberi sinyal saat perut sudah merasa kenyang.
Mekanisme tersebut baru diketahui para peneliti yang hasil risetnya dipublikasikan dalam jurnal Science. Penemuan ini secara tidak sengaja diketahui ilmuwan dari Yale University saat meneliti nikotin pada mencit. Binatang tersebut mendadak mulai makan lebih sedikit saat zat nikotin memasuki tubuhnya.
Di dalam otak, nikotin akan menempel pada berbagai reseptor di permukaan sel, termasuk juga pada bagian ganjaran (reward) sehingga memberikan rasa nikmat dan membuat seseorang ingin mengulanginya.
Selain itu ternyata nikotin juga mengikatkan diri pada reseptor pada saraf yang mengatur nafsu makan, yang tidak terkait pada efek adiksi. Bagian saraf ini berlokasi di hipotalamus dan mengirimkan sinyal kenyang setelah makan sehingga kita bisa mengatur kapan harus berhenti.
Hal ini menjelaskan mengapa para perokok sering merasa tidak lapar ketika mereka sedang menghisap tambakau. Ketika mereka ingin berhenti dari kebiasaan merokok, banyak perokok yang mulai makan lebih banyak, sehingga rata-rata mengalami kenaikan berat badan sampai 5 kilogram setelah berhenti.
Meski kenaikan berat badan yang dialami tergolong sedang, namun menurut Picciotto hal ini bisa menghambat motivasi seseorang untuk berhenti merokok. Dengan diketahuinya mekanisme nikotin di otak, diharapkan akan diciptakan obat untuk lepas dari kebiasaan merokok yang mampu bekerja secara spesifik pada reseptor di otak.
Obat semacam itu sebenarnya sudah tersedia di daerah Eropa Timur yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan. Namun obat ini memiliki efek samping.
"Reseptor itu juga berkaitan dengan respon stres tubuh sehingga bisa menyebabkan efek samping seperti tekanan darah tinggi," kata Marina Picciotto, peneliti dari Yale.
Ia menambahkan, rokok memiliki banyak efek buruk seperti memicu kanker, serangan jantung dan berbagai penyakit kronik lagi. Karena itu bertambah sedikit berat badan menurutnya bukan hal yang perlu dikhawatirkan.
Mekanisme tersebut baru diketahui para peneliti yang hasil risetnya dipublikasikan dalam jurnal Science. Penemuan ini secara tidak sengaja diketahui ilmuwan dari Yale University saat meneliti nikotin pada mencit. Binatang tersebut mendadak mulai makan lebih sedikit saat zat nikotin memasuki tubuhnya.
Di dalam otak, nikotin akan menempel pada berbagai reseptor di permukaan sel, termasuk juga pada bagian ganjaran (reward) sehingga memberikan rasa nikmat dan membuat seseorang ingin mengulanginya.
Selain itu ternyata nikotin juga mengikatkan diri pada reseptor pada saraf yang mengatur nafsu makan, yang tidak terkait pada efek adiksi. Bagian saraf ini berlokasi di hipotalamus dan mengirimkan sinyal kenyang setelah makan sehingga kita bisa mengatur kapan harus berhenti.
Hal ini menjelaskan mengapa para perokok sering merasa tidak lapar ketika mereka sedang menghisap tambakau. Ketika mereka ingin berhenti dari kebiasaan merokok, banyak perokok yang mulai makan lebih banyak, sehingga rata-rata mengalami kenaikan berat badan sampai 5 kilogram setelah berhenti.
Meski kenaikan berat badan yang dialami tergolong sedang, namun menurut Picciotto hal ini bisa menghambat motivasi seseorang untuk berhenti merokok. Dengan diketahuinya mekanisme nikotin di otak, diharapkan akan diciptakan obat untuk lepas dari kebiasaan merokok yang mampu bekerja secara spesifik pada reseptor di otak.
Obat semacam itu sebenarnya sudah tersedia di daerah Eropa Timur yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan. Namun obat ini memiliki efek samping.
"Reseptor itu juga berkaitan dengan respon stres tubuh sehingga bisa menyebabkan efek samping seperti tekanan darah tinggi," kata Marina Picciotto, peneliti dari Yale.
Ia menambahkan, rokok memiliki banyak efek buruk seperti memicu kanker, serangan jantung dan berbagai penyakit kronik lagi. Karena itu bertambah sedikit berat badan menurutnya bukan hal yang perlu dikhawatirkan.
Asap Rokok Telah Mengepung Kita
Sekitar 50 anak usia 8-14 tahun terlibat dalam permainan interaktif tentang bahaya merokok di Lantai IV Gereja St Yoseph, Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, Minggu (5/6). Dari kegiatan itu diketahui, ternyata semua anak itu telah tahu dan mengenal rokok. Mereka mendapatkan informasi rokok dari perokok serta iklan dan promosi yang mereka temui, baca, atau lihat setiap hari di sekeliling mereka.
Apa yang muncul dari kegiatan itu sama dengan kondisi yang terjadi sebenarnya di masyarakat. Riset yang pernah dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Hamka pada 2007 menemukan hal yang sama.
Sebanyak 99,7 persen remaja usia 13-15 tahun pernah melihat iklan rokok di televisi, 76,2 persen pernah melihat iklan rokok di media cetak, dan 86,7 persen pernah melihat iklan rokok di baliho atau poster di luar ruang. Tidak kurang dari 81 persen remaja responden riset juga mengaku pernah mengikuti kegiatan yang disponsori industri rokok.
”Asap rokok memang telah mengepung kita. Semakin banyak keluarga, teman, atau kenalan kita sakit, bahkan meninggal dunia akibat rokok. Namun, tetap saja jumlah perokok bertambah,” kata Connie T, ketua panitia kegiatan promosi antirokok kepada anak itu.
Apa yang dilakukan Connie agaknya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan industri rokok dan pengikutnya demi mempromosikan rokok. Lihat saja, selain iklan rokok yang berhamburan di setiap media, hampir setiap bulan di depan halaman Balai Kota DKI Jakarta ataupun di DPRD DKI Jakarta selalu ada demo yang menuntut dicabutnya Peraturan Gubernur Nomor 88 Tahun 2010.
Pergub yang menghapus ruang khusus merokok di tempat umum itu membuat perokok tidak bisa merokok di dalam ruangan di tempat umum kecuali di udara terbuka. Para pendemo sering kali mengajak pedagang asongan berdemo, dengan alasan mereka inilah yang akan terkena dampaknya dengan pelarangan itu.
Aksi demo ini tentu saja mengherankan. Masalahnya, sudah dilarang saja jumlah perokok tiap tahun terus meningkat. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India (WHO, 2008). Pada tahun 2007, Indonesia menduduki peringkat ke-5 konsumen rokok terbesar setelah China, Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang.
Hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2010 menemukan penduduk berumur di atas 15 tahun yang merokok sebesar 34,7 persen. Peningkatan prevalensi perokok terjadi pada kelompok umur 15-24 tahun dari 17,3 persen (2007) menjadi 18,6 persen atau naik hampir 10 persen dalam kurun tiga tahun. Peningkatan juga terjadi pada kelompok umur produktif, yaitu 25-34 tahun dari 29,0 persen (2007) menjadi 31,1 persen (2010).
Hasil riset yang mengejutkan ini tentu saja mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk terus menjaga warganya dari bahaya asap rokok. Pemprov menilai, upaya pengendalian rokok ini harus terus dilakukan.
Sebenarnya pada tahun 2004, Pemprov DKI sudah mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur No 16/2004 tentang pengendalian rokok di tempat kerja di lingkungan Pemprov DKI. SK itu disosialisasikan di seluruh jajaran pemerintah daerah hingga kecamatan dan kelurahan, bahkan di lingkungan kerja di DKI harus ada kawasan tanpa rokok.
SK Gubernur ini lalu dikembangkan menjadi Peraturan Daerah No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok di tempat belajar mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum. Namun, ini pun ternyata belum efektif.
Tidak peduli
Masih banyak ditemukan perokok yang tidak peduli dengan merokok di tempat umum. Selain itu, asap rokok masih bisa mencemari ruangan-ruangan lain sehingga membahayakan yang tidak merokok. Melihat kenyataan ini, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pun akhirnya mengeluarkan Pergub No 88/2010 yang menghapus semua tempat merokok di tempat umum.
”Kita sudah mengetahui, penyakit-penyakit yang ditimbulkan rokok telah melemahkan sumber daya kita. Asap rokok telah memicu sedikitnya 35 macam penyakit, mulai dari penyakit saluran pernapasan, kanker paru-paru, penyakit pembuluh darah, impotensi, stroke, dan kanker kandung kemih. Jadi, lebih banyak kerugian yang ditimbulkan dari pada keuntungannya,” papar Fauzi.
Data dari Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia menyebutkan, kerugian akibat penyakit yang ditimbulkan asap rokok mencapai Rp 167 triliun pada tahun 2005. Pada saat yang sama, pendapatan pemerintah dari cukai tembakau hanya sebesar Rp 32,6 triliun.
Sementara Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta Peni Susanti mengatakan, berdasarkan hasil survei, sebagian besar masyarakat kalangan menengah ke bawah menghabiskan 20 persen dari pendapatannya untuk membeli rokok. Kenyataan ini tentu sangat ironis sekali mengingat untuk makan saja terkadang susah, tetapi mereka mampu menyisihkan uangnya hanya untuk rokok.
Dengan melihat kondisi buruk yang ditimbulkan rokok dan gempuran yang terus-menerus dilakukan oleh industri rokok dan kelompok pengikutnya, upaya untuk membebaskan masyarakat yang tidak merokok dari bahaya asap rokok harus terus dilakukan. Keikutsertaan warga masyarakat pun dibutuhkan, yakni dengan memberikan sanksi sosial bagi perokok. Caranya dengan berani menegur perokok ketika mereka merokok di sembarang tempat.
Penulis : M Clara Wresti
Apa yang muncul dari kegiatan itu sama dengan kondisi yang terjadi sebenarnya di masyarakat. Riset yang pernah dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Hamka pada 2007 menemukan hal yang sama.
Sebanyak 99,7 persen remaja usia 13-15 tahun pernah melihat iklan rokok di televisi, 76,2 persen pernah melihat iklan rokok di media cetak, dan 86,7 persen pernah melihat iklan rokok di baliho atau poster di luar ruang. Tidak kurang dari 81 persen remaja responden riset juga mengaku pernah mengikuti kegiatan yang disponsori industri rokok.
”Asap rokok memang telah mengepung kita. Semakin banyak keluarga, teman, atau kenalan kita sakit, bahkan meninggal dunia akibat rokok. Namun, tetap saja jumlah perokok bertambah,” kata Connie T, ketua panitia kegiatan promosi antirokok kepada anak itu.
Apa yang dilakukan Connie agaknya tidak sebanding dengan apa yang dilakukan industri rokok dan pengikutnya demi mempromosikan rokok. Lihat saja, selain iklan rokok yang berhamburan di setiap media, hampir setiap bulan di depan halaman Balai Kota DKI Jakarta ataupun di DPRD DKI Jakarta selalu ada demo yang menuntut dicabutnya Peraturan Gubernur Nomor 88 Tahun 2010.
Pergub yang menghapus ruang khusus merokok di tempat umum itu membuat perokok tidak bisa merokok di dalam ruangan di tempat umum kecuali di udara terbuka. Para pendemo sering kali mengajak pedagang asongan berdemo, dengan alasan mereka inilah yang akan terkena dampaknya dengan pelarangan itu.
Aksi demo ini tentu saja mengherankan. Masalahnya, sudah dilarang saja jumlah perokok tiap tahun terus meningkat. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India (WHO, 2008). Pada tahun 2007, Indonesia menduduki peringkat ke-5 konsumen rokok terbesar setelah China, Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang.
Hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2010 menemukan penduduk berumur di atas 15 tahun yang merokok sebesar 34,7 persen. Peningkatan prevalensi perokok terjadi pada kelompok umur 15-24 tahun dari 17,3 persen (2007) menjadi 18,6 persen atau naik hampir 10 persen dalam kurun tiga tahun. Peningkatan juga terjadi pada kelompok umur produktif, yaitu 25-34 tahun dari 29,0 persen (2007) menjadi 31,1 persen (2010).
Hasil riset yang mengejutkan ini tentu saja mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk terus menjaga warganya dari bahaya asap rokok. Pemprov menilai, upaya pengendalian rokok ini harus terus dilakukan.
Sebenarnya pada tahun 2004, Pemprov DKI sudah mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur No 16/2004 tentang pengendalian rokok di tempat kerja di lingkungan Pemprov DKI. SK itu disosialisasikan di seluruh jajaran pemerintah daerah hingga kecamatan dan kelurahan, bahkan di lingkungan kerja di DKI harus ada kawasan tanpa rokok.
SK Gubernur ini lalu dikembangkan menjadi Peraturan Daerah No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok di tempat belajar mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum. Namun, ini pun ternyata belum efektif.
Tidak peduli
Masih banyak ditemukan perokok yang tidak peduli dengan merokok di tempat umum. Selain itu, asap rokok masih bisa mencemari ruangan-ruangan lain sehingga membahayakan yang tidak merokok. Melihat kenyataan ini, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pun akhirnya mengeluarkan Pergub No 88/2010 yang menghapus semua tempat merokok di tempat umum.
”Kita sudah mengetahui, penyakit-penyakit yang ditimbulkan rokok telah melemahkan sumber daya kita. Asap rokok telah memicu sedikitnya 35 macam penyakit, mulai dari penyakit saluran pernapasan, kanker paru-paru, penyakit pembuluh darah, impotensi, stroke, dan kanker kandung kemih. Jadi, lebih banyak kerugian yang ditimbulkan dari pada keuntungannya,” papar Fauzi.
Data dari Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia menyebutkan, kerugian akibat penyakit yang ditimbulkan asap rokok mencapai Rp 167 triliun pada tahun 2005. Pada saat yang sama, pendapatan pemerintah dari cukai tembakau hanya sebesar Rp 32,6 triliun.
Sementara Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta Peni Susanti mengatakan, berdasarkan hasil survei, sebagian besar masyarakat kalangan menengah ke bawah menghabiskan 20 persen dari pendapatannya untuk membeli rokok. Kenyataan ini tentu sangat ironis sekali mengingat untuk makan saja terkadang susah, tetapi mereka mampu menyisihkan uangnya hanya untuk rokok.
Dengan melihat kondisi buruk yang ditimbulkan rokok dan gempuran yang terus-menerus dilakukan oleh industri rokok dan kelompok pengikutnya, upaya untuk membebaskan masyarakat yang tidak merokok dari bahaya asap rokok harus terus dilakukan. Keikutsertaan warga masyarakat pun dibutuhkan, yakni dengan memberikan sanksi sosial bagi perokok. Caranya dengan berani menegur perokok ketika mereka merokok di sembarang tempat.
Penulis : M Clara Wresti
Langganan:
Postingan (Atom)
