Rabu, 15 Juni 2011

Pelepasan Karbon dari Lautan Bertambah

Upaya mengurangi emisi gas rumah kaca di atmosfer harus segera dilakukan jika ingin menghindari percepatan pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak terkendali. Potensi tersebut meningkat karena pelepasan gas rumah kaca dari laut terus bertambah.

Staf pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, Alan F Koropitan, menjelaskan, air lautan di seluruh dunia berotasi terus-menerus dari perairan utara Bumi—antara lain Laut Atlantik—ke perairan selatan Bumi, seperti Laut Antartika.

”Dan, air laut di seluruh dunia menyerap karbon, baik karbon di dalam partikel yang masuk ke lautan maupun karbon yang ada di atmosfer. Karbon dalam partikel akan terdekomposisi menjadi karbon yang terlarut dalam air laut. Seluruh karbon terserap akan tersimpan dalam massa air laut lapisan dalam. Jika kondisinya normal, lebih banyak karbon yang diserap laut daripada yang dilepaskan,” kata Koropitan di Belawan, Selasa (7/12).

Komposisi karbon dalam atmosfer mencapai 45 persen dari total karbon di Bumi, tumbuhan di daratan 29 persen, dan laut 26 persen. ”Penelitian Global Carbon Project menunjukkan, indeks CO tersimpan di air laut turun dari 0,3 pada 1960 menjadi 0,25 (2008). Sebaliknya, indeks kandungan CO dalam atmosfer naik dari 0,41 pada 1960 menjadi 0,43 pada 2008,” kata Koropitan.

Hal itu disebabkan meningkatnya kecepatan air di Laut Antartika akibat pemanasan global yang menyebabkan pengangkatan massa air laut dalam ke permukaan laut meningkat sehingga pelepasan karbon semakin tinggi. Semakin banyak kandungan karbon di udara, semakin memanaskan atmosfer sehingga proses serupa semakin cepat.

”Solusinya hanya satu, yaitu mengurangi emisi karbon negara-negara maju. Mitigasi dengan mencegah pembukaan hutan baru, seperti REDD+, tidak akan menurunkan laju pelepasan karbon dari laut,” katanya.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa menyatakan, penurunan kemampuan laut menyerap karbon menjelaskan fakta mengapa laju pertambahan emisi gas rumah kaca meningkat dari 1,5 part per million (ppm) hingga 2 ppm per tahun pada 1990 menjadi 3,5 ppm per tahun pada saat ini. ”Karena laju pertambahan emisi gas rumah kaca semakin cepat, pada 2011 harus ada kesepakatan global menurunkan emisi. Entah dengan menyepakati tahap kedua Protokol Kyoto atau perjanjian baru penurunan emisi,” kata Fabby. (ROW)

Manyanggar, Cara Warga Dayak Jaga Hutan

Nenek moyang masyarakat Dayak percaya bahwa setiap hutan pastilah punya penunggu. Penghuni kawasan berpohon rimbun itu begitu dihormati sehingga masyarakat zaman dulu amat segan mengganggu hutan. Karena itulah, mereka nyaris tak pernah menebang secara membabi-buta.

Ekspresi untuk menghargai hutan itu dilakukan dengan manyanggar, sebuah upacara yang digelar sebelum menebang pohon-pohon di hutan. Ritual dilakukan dengan memotong babi atau sapi untuk dimakan bersama-sama. Dalam manyanggar, dilakukan balian atau menabuh ketampung, yakni semacam gendang khas Dayak .

Kepala Subbagian Penyusunan Program Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Syahmin mengatakan, manyanggar misalnya dilakukan warga yang hendak berladang. Kalau sistem zaman dulu dilakukan dengan ladang berpindah dan butuh lahan cukup luas, katanya.

Manyanggar dilakukan untuk meminta restu kepada penunggu lahan. Dalam upacara itu, disampaikan kisah-kisah mengenai alam dan penunggunya yang harus dihormati. "Mereka yang akan menebang pohon menyampaikan maksudnya kepada penunggu dan memberi tahu bahwa syarat berupa hewan kurban sudah dipenuhi," ucapnya, Senin (13/6/2011).

Menurut Syahmin, menebang pohon di hutan merupakan kebiasaan masyarakat Dayak sejak dulu dan sampai sekarang masih dilakukan. Kayu yang diambil antara lain berasal dari pohon karet, angkang, dan katiau. Akan tetapi, saat ini manyanggar sudah kian jarang digelar.

Padahal, laju deforestasi di Kalteng kian sulit untuk dibendung. Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalteng, laju deforestasi Kalteng setiap tahun mencapai lebih dari 150.000 hektar. Perilaku itu sungguh berbeda dengan budaya leluhur masyarakat Dayak yang memanfaatkan alam secara bijak.

Hidup masyarakat Dayak amat bergantung dari hutan yang menghasilkan berbagai macam pangan. Dalam proses pengolahan pangan itu tentu dibutuhkan kayu bakar. Akan tetapi, masyarakat Dayak zaman dulu tak mengambil kayu secara berlebihan, kata Syahmin.

Nonton Sekaligus Belajar Astronomi

Peristiwa gerhana bulan total yang terjadi Kamis (16/6/2011) menjadi momentum untuk belajar lebih dalam mengenai astronomi. Di Pesantren Assalam, Solo, Jawa Tengah, misalnya, sejak Rabu pagi tadi berlangsung acara ceramah tentang gerhana bulan bagi pelajar, pengamatan sunspot (titik matahari), dan puncaknya pengamatan gerhana bulan total Kamis dini hari nanti.

Tidak hanya belajar teori di kelas. Para santri juga mencoba langsung pengamatan benda langit dengan sejumlah teleskop yang sudah dipersiapkan. Pihak Pesantren Assalam bekerja sama dengan Jogja Astro Club untuk mendatangkan peralatan-peralatan tersebut.

"Sudah dipersiapkan 3 teleskop dari Jakarta, 5 dari Yogyakarta dan 5 dari Assalam. Ada juga beberapa binokuler. Kita juga bekerjasama dengan Planetarium Jakarta," kata astronom amatir dari Jogja Astro Club Mutoha Arkanuddin yang turut terlibat di acara ini, saat dihubungi Kompas.com lewat telepon.

Menurut Mutoha, fenomena gerhana bulan total sebenarnya lebih bagus disaksikan dengan mata telanjang. Namun, dengan bantuan teleskop, bayangan bulan saat gerhana lebih terlihat sehingga proses terjadinya gerhana bisa disaksikan dengan lebih detail.

Rangkaian observasi gerhana bulan total akan berlangsung dari pukul 01.00 WIB - 04.00 WIB nanti. Mutoha juga mengatakan bahwa masyarakat yang tak bisa hadir bisa mengakses live di http://rukyatulhilal.org/live/gbt2011 dan web http://kafeastronomi.com yang menjadi official site observasi.

Mutoha mengungkapkan, selain observasi gerhana, akan dilakukan juga pengamatan bintang dan planet. Diskusi yang bertujuan untuk mempopulerkan astronomi pada masyarakat juga akan digelar nanti malam. Acara nanti malam bisa diikuti siapa saja dan gratis.

Menurutnya, pengamatan gerhana bulan total nanti malam bermakna dalam beberapa hal. "Pengamatan nanti malam juga bisa sekaligus untuk menguji akurasi hisab rukyat. Jadi kita bisa tahu hitungan kita benar atau tidak," jelas Mutoha.

Kalangan yang masih melakukan penghitungan berdasarkan kitab lama bisa menelaah lagi. "Masyarakat juga dengan acara ini dari tidak tahu menjadi tahu," ungkap Mutoha.

Lewat pengamatan, menurut Mutoha, masyarakat bisa mengetahui salah satu cara menentukan permulaan bulan Ramadan dan Syawal. "Lalu bagi mereka yang belum pernah sholat gerhana, ini saatnya," tambahnya.

Mutoha menambahkan, "Kita juga memanfaatkan momen ini untuk ujicoba streaming Kominfo untuk persiapan rukyat yang akan datang." Jika nantu berhasil, nantinya masyarakat bisa memanfaatkan informasi berbasis web untuk mengetahui perhitungan permulaan Ramadhan dan Syawal.

Untuk kegiatan ceramah gerhana, Mutoha mengatakan kegiatan itu sudah diadakan sejak kemarin. Targetnya adalah bagi siswa SMU dan SMP. "Kita undang kurang lebih 20 sekolah, kita berikan ceramah tentang gerhana," kata Mutoha.

Dinosaurus Terkecil Ada di Inggris

Spesies dinosaurus jenis baru yang ditemukan fosilnya dalam penggalian di Inggris mungkin tercatat sebagai dinosaurus terkecil di dunia. Dinosaurus yang diberi nama Ashdown maniraptoran itu panjang tubuhnya sekitar satu kaki (30,48 cm) dengan berat 200 gram itu diperkirakan hidup pada periode 145 sampai 100 juta tahun lalu.

"Seperti maniraptor lainnya, spesies ini tubuhnya kecil, berbulu, berjalan dengan dua kaki, seperti burung, berekor pendek, leher panjang, kaki belakang yang panjang dan ramping, serta cakar bagian tubuh depan yang berbulu," terang Darren Naish, asisten riset kehormatan di School of Earth & Environmetal Sciences, University of Portsmouth, Inggris, kepada Discovery News.

Spesies ini ditemukannya bersama Steven Sweetman saat menganalisis sisa-sisa pengalian dinosaurus di Pivensey Pit, di Ashdown Brickworks, situs yang terletak di barat laut Bexhill, Sussex Timur.

Naish dan Sweetman menyimpulkan, fosil yang mereka temukan itu adalah merupakan spesies dinosaurus yang belum terdokumentasikan. Pasalnya, belum ada nama dinosaurus yang merupakan maniraptor dari bebatuan yang berusia sama dan dari daerah yang sama. Namu, belum ditemukannya tengkorak dinosaurus tersebut membuat para peneliti belum dapat menyimpulkan makanan Ashdown maniraptoran ini.

Namun Naish menduga, berdasarkan maniraptor dan oviraptosaurus lainnya, dinosaurus ini termasuk omnivora yang memangsa binatang kecil seperti serangga di samping memakan dedaunan dan buah-buahan. Selain itu, tambah Naish, cara berjalan Ashdown maniraptoran serupa dengan theropod lain, yaitu dengan tubuh dan ekor yang berada pada posisi horizontal.

Pesaing terberat Ashdown maniraptoran sebagai kandidat dinosaurus non-unggas terkecil di dunia saat ini adalah Anchiornis dari China dengan panjang tubuh sekitar 30 sampai 40 sentimeter. Namun belum dapat dipastikan berapa panjang sebenarnya. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)

Gerhana Bulan, Pasang Laut Lebih Tinggi

Stasiun Meteorologi Cilacap, Jawa Tengah, memprakirakan gerhana Bulan total yang berlangsung pada Kamis (16/6/2011) dini hari akan memengaruhi pasang-surut di laut yang tidak seperti peristiwa gerhana biasanya. Hal ini karena posisi Bulan, Bumi, dan Matahari tepat lurus.

"Kami perkirakan akan terjadi pasang-surut maksimum saat terjadinya gerhana Bulan total tersebut karena posisi Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada garis lurus atau garis ekliptika. Kita akan amati seberapa besar pasang-surut yang akan terjadi di perairan selatan Jawa Tengah, khususnya Cilacap," kata analis cuaca Stasiun Meteorologi Cilacap, Teguh Wardoyo, di Cilacap, Rabu.

Menurut dia, gerhana Bulan total yang akan terjadi pada Kamis dini hari tersebut merupakan yang terlama pada abad ini karena akan berlangsung selama 100 menit dan dapat dilihat di seluruh wilayah Indonesia sepanjang cuaca tidak mendung. Ia mengatakan, gerhana akan berlangsung mulai pukul 00.23 WIB dan berakhir pada pukul 06.02 WIB. "Sedangkan gerhana total akan berlangsung mulai pukul 02.22 WIB dengan puncaknya pada pukul 03.12 WIB. Gerhana total akan berakhir pukul 04.03 WIB," katanya.

Selain di Indonesia, kata dia, gerhana tersebut dapat dilihat di Amerika Selatan, Afrika, Eropa, Timur Tengah, Asia, Australia, Antartika, Samudra Atlantik, Samudra Hindia, dan Samudra Pasifik bagian barat daya.

Disinggung kondisi perairan selatan Jawa Tengah pada hari Kamis, dia mengatakan, tinggi gelombang maksimum diperkirakan masih 3-3,5 meter. Menurut dia, kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga tiga hari ke depan. "Masih tingginya gelombang di perairan selatan Jawa Tengah ini dipengaruhi kecepatan angin yang bertiup di atas wilayah perairan yang cenderung searah," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut dia, tinggi gelombang di wilayah pantai diperkirakan 0,7-3 meter dengan kecepatan angin 20 kilometer per jam-45 kilometer per jam yang bertiup dari arah timur hingga tenggara. Sementara di wilayah Samudra Hindia selatan Jateng, lanjutnya, tinggi gelombang diperkirakan antara 1,2 meter dan 3,5 meter dengan kecepatan angin 25-50 kilometer per jam yang bertiup dari arah timur hingga tenggara. "Kondisi ini masih berbahaya bagi nelayan tradisional berperahu kecil ataupun tongkang," katanya.

Daya Tampung Karbon Justru Naik

Salah satu dampak positif pemanasan global adalah meningkatkan kapasitas pohon dan tumbuh-tumbuhan dalam penampungan karbondioksida. Sebuah studi yang dipimipin oleh Jerry Melillo dari Marine Biological Laboratory Amerika Serikat mengindikasikan itu.

Pada ringkasan tulisan penelitian yang dimuat dalam publikasi jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences baru-baru ini, dikatakan bahwa menghangatnya iklim telah merangsang penangkapan juga penyimpanan karbondioksida pada bagian tanaman dalam jumlah lebih besar. Menurut para peneliti, makin banyaknya karbon yang terserap saat tumbuhan melakukan proses fotosintesis itu disebabkan lebih banyak nitrogen yang memungkinkan untuk dapat dibuat dalam kondisi suhu tanah hangat.

Selama ini, tutur Melillo, pohon-pohon yang ada di Amerika Serikat umumnya sangat terbatas kandungan nitrogennya. "Kami menemukan bahwa pemanasan (global) telah memerangkap senyawa nitrogen di dalam tanah berupa nitrogen organik, untuk dilepaskan sebagai senyawa anorganik. Ketika pohon menyerap nitrogen anorganik ini, pertumbuhannya akan lebih cepat dan menampung lebih banyak karbon," jelasnya.

Ia menambahkan, keseimbangkan jumlah karbon di ekosistem hutan untuk dekade-dekade selanjutnya di saat fenomena perubahan iklim juga terjadi, akan sangat bergantung pada aneka faktor lain. "Misalnya, ketersediaan air, efek peningkatan temperatur bagi fotosintesis dan respirasi, serta konsentrasi karbondioksida di lapisan atmosfer," katanya. (National Geographic Indonesia/Gloria Samantha)

Ozon Kutub Utara Hampir Berlubang

Ozon terus menipis, bahkan nyaris berlubang di Kutub Utara. Penurunan temperatur stratosfer yang jadi penyebab.

Penyebab terbentuknya lubang ozon ada tiga, menurut Profesor Ross Salawitch, ahli kimia dan biokimia dari University of Maryland, yang mempelajari kandungan zat kimia di atmosfer. Ketiganya adalah sinar matahari, halogen, dan temperatur rendah.

Saat temperatur turun melebihi ambang batas, awan terbentuk di stratosfer. Halogen, khususnya polutan, seperti klorin dan brom, berubah menjadi senyawa kimia yang bereaksi dengan cepat di ozon. "Semua berubah drastis," kata Salawitch.

Tahun ini sistem angin kutub yang dikenal dengan nama "pusaran kutub" sangat tenang dan stabil. Hal itu berperan dalam menurunkan temperatur di daerah Kutub Utara. Penurunan drastis ini, jika terjadi di Kutub Selatan, dipastikan bisa membentuk lubang ozon karena lapisan ozon di sana lebih tipis daripada di Kutub Utara.

Saat ini pusaran angin sudah menghilang dan udara dari luar Kutub Utara yang lebih hangat bisa masuk dan memperbaiki lapisan ozon.

Jika ozon berlubang, semakin banyak radiasi ultraviolet yang mencapai bumi yang bisa memicu penyakit kulit. Dengan lapisan ozon yang semakin tipis saja orang berkulit sensitif akan semakin mudah terbakar sinar matahari. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)