Minggu, 11 April 2010

Gangguan bidang interaksi sosial

Menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh.

Gangguan pada penderita autisme

Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara,. menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan, berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain. Suka menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton seperti robot, tidak digunakan untuk komunikasi dan mimik datar

Autisme itu!!

Autisme merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.

Klasifikasi

A. Developmental language disorders (ganguan perkembangan berbahasa)
1. Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas - gangguan lain yang menyertainya (pure dysphasia development atau expressive language disorder menurut DSM IV)
Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif (mixed receptive-expressive language disorder DSM IV). Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangat rendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia).
1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.

B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.
1. Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau “mute autistic”. Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.
2. Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)
3. Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).
4. Gangguan sensorik pendengaran yang parah.

C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) – pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.

D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembangian 1 & 2

Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner-syndrom (gejala mirip pada pembangian B)
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).

Terlambat bicara atau autisme

Pertanyaan ini aku lihat paling banyak ditanyakan oleh para Ibu yang mempunyai anak usia 1,5 tahun, 2 tahun, 2,5 tahun yang belum juga bicara. Kadang ada yang cerita belum banyak bicaranya, tetapi sudah mengerti jika diajak ngbrol. Ketakutan akan bergangguan autisme memang beralasan, karena publikasinya memang begitu mengatakan bahwa: hati-hati jika anak terlambat bicara, kemungkinan autisme.

Berapa banyak autisme? Banyak, begitu menurut publikasi. Berapa jelasnya? Engga tahu, karena angkanya samaunya. Ada yang bilang 1 : 500, ada yang 2: 250, eh ada juga yang bilang 1 : 150. Bayangkan dong kalau 1: 150, apa nanti gak bakal muncul partai kelompok autisme? Kok tinggi banget sih? Kalau tinggi begitu kenapa kok WHO engga membuat seruan serbu autisme, dan semua Negara membuat program pemberantasan ataupun pencegahan autisme. Ya engga, karena menurut banyak orang yang ngubek autisme, konon karena pertama yang salah:
1) tatalaksana sistem diagnosa autisme kurang ketat, seharusnya dilakukan secara multidisiplin, jangka waktu lama, berbulanan, hingga setahun, baru ditegakkan diagnosanya, tapi banyak hanya dengan satu kali kunjungan, tanpa konsultasi kiri kanan, bahkan ada yang cuma liwat mailing list segala, saat seorang Ibu bertanya mengapa anaknya belum bicara, langsung dapat diagnosa.
2) DSM IV atau ICD 10 yang menjadi dasar penegakan diagnosa jadi biang kerok.

Salah satu artikel yang secara terus terang mengkritik kriteria itu ditulis oleh Tine van Schijndel-Jehoel seorang orthopedagog peserta program doktor neuropsikologi klinik dari Universitas Tilburg – Belanda. Artikel itu adalah bagian dari pendidikan doktornya, yang ditampilkan di sebuah majalah autisme ilmiah Wetenschapplijk Tijdschrift Autisme, edisi Agustus 2005, dengan judul artikel: Brein bedriegt: als een autisme spectrum stoornis geen autisme is (Otak yang menipu: jika autisme spectrum disorder ternyata bukan autisme). Ia menjelaskan bahwa:
1) DSM IV adalah kelanjutan dari DSM III, dan ICD 10 adalah kelanjutan dari ICD 9;
2) dalam kriteria itu baik DSM IV maupun ICD 10, yang diambil dari DSM III & ICD 9, adalah prototip sistem klasifikasi bahwa: seorang anak dapat didiagnosa berdasarkan kumpulan gejala tertentu, tanpa harus memenuhi seluruh kriteria yang ada;
3) kumpulan gejala itu tak ada penjelasan latar belakang penyebab dan mengapa gejala itu bisa terjadi;
4) kriteria itu tidak pernah melalui upaya-upaya berbagai penelitian guna mendukung akurasi kriteria;
5) ketiga faktor yang menjadi dasar diagnosa (gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan perilaku repetitif dan stereotipik) tidak diberi definisi secara jelas.


Akibat dari kriteria yang digunakan itulah yang pada akhirnya menjadi penyebab banyaknya anak-anak dengan bermacam-macam pola gejala mendapatkan diagnosa yang sama, yaitu autisme, yang dengan catatan sebetulnya sangat beragam (heterogen). Dengan alasan heterogenitas dan kesulitan menentukan letak setiap anak yang menerima diagnosa itu dalam sebuah spektrum yang panjang, akhirnya digunakanlah istilah Autism Spectrum Disorder (ASD). Menurut Shijndel-Jehoel lagi bahwa para ilmuwan saat melakukan penelitian seringkali juga menjadikan Autism Spectrum Disorder (ASD) sebagai satu objek grup penelitian yang dianggap homogen. Artinya semua ini menurutnya bahwa perkembangan kognitif neuropsikologi anak didiagnosa melalui kumpulan gejala tanpa memperhatikan lagi perbedaan etiologi (penyebab) dari setiap kelompok dalam spektrum tersebut. Dalam menangkap tanda-tanda gangguan autisme ini, gejala perilakulah yang menjadi sasaran, maka berbagai gejala perilaku akan terjebak masuk ke dalam term perilaku menyimpang, tanpa memperhatikan lagi apakah seorang anak mempunyai performa atau kinerja yang baik, mempunyai potensi, mempunyai prinsip yang kuat, dan dapat menunjukkan perilaku sosial yang adaptif, yang ke semuanya itu bisa saja nampak dalam situasi di rumah.

Hormon cinta

Hormon cinta atau oksitosin terbukti bermanfaat memperbaiki fungsi sosial para penderita autisme, demikian dilaporkan sebuah riset terbaru di Prancis.

Angela Sirigu dan timnya dari laboratorium CNRS di Bron, Prancis menemukan pemberian oksitosin dalam bentuk inhalasi kepada partisipan pengidap spektrum autisme menunjukkan hasil yang baik. Mereka cenderung lebih fokus dalam memberikan perhatian terhadap mata dan wajah manusia -- yang merupakan penanda penting dari interaksi sosial.

Riset ini dilakukan dengan cara membandingkan efek oksitosin pada 13 individu berusia 17-39 tahun - 10 di antaranya dengan gejala spektrum autis dan tiga lainnya mengidap high functioning autisme (autisme dengan tingkat IQ tinggi) - dengan 13 kelompok populasi kontrol. Kedua kelompok ini diperintahkan bermain video game sepakbola di mana kelompok autisme mendapatkan inhaler oksitosin.

Riset yang dipublikasi secara online dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, itu menemukan bahwa inhalasi oksitosin pada dewasa yang pengidap Sindrom Asperger atau autisme IQ tinggi membuat mereka cenderung senang bermain dengan partner mereka yang lebih responsif secara sosial dalam video gim sepakbola.

"(Riset) Kami menunjukan bahwa oksitosin dapat merangsang pendekatan sosial dan pemahaman sosial para pasien pengidap autisme," ungkap Sirigu.

"Studi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui apakah asupan oksitosin untuk jangka panjang dapat memperbaiki pada kehidupan soal para pasien ini dalam kesehariannya," tambahnya.

Hormon oksitosin adalah hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus dan disimpan dalam kelenjar pituitari belakang. Hormon ini biasanya banyak diproduksi oleh wanita hamil menjelang melahirkan dan juga dilepaskan pria dan wanita saat berhubungan intim. Hormon ini juga terbukti berkaitan dengan ikatan emosional dan hubungan interpersonal.

kondisi klinis

#Autisme merupakan kondisi klinis yang dapat berkembang sejak awal masa anak-anak.dan bersifat kronik yang ditandai dengan kegagalan ataupun ketidakmampuan dalam berhubungan sosial dengan lingkungan ataupun dengan individu lainnya, keterlambatan perkembangan bahasa, serta gangguan perilaku. Angka kejadian dari autisme ini diperkirakan mencapai 20 kasus per 10.000 anak, dan studi lain dilaporkan sebesar 63 kasus per 10.000 anak. Pada beberapa kasus, gejala utama dari autisme ini sering disertai dengan perubahan perilaku yang serius seperti: perilaku merusak diri, agresivitas, tantrum yang merupakan suatu respon terhadap tuntutan lingkungan. Dan masalah gangguan perilaku ini akan menyebabkan masalah dalam proses rehabilitasi baik dari orang tua maupun dari pembimbing yang tentunya membutuhkan usaha yang lebih besar untuk memperbaiki hal tersebut.

Walaupun terapi perilaku dapat menurunkan agresivitas namun hal ini sangat bersifat individualistik dan belum ada studi acak tersamar ganda untuk hal ini, dan pula zat-zat yang dapat digunakan untuk autisme juga masih terbatas. Antagonis terhadap reseptor dopamine secara teoritis dapat digunakan, haloperidol merupakan salah satu antagonis reseptor dopamine yang memberikan efek positif. Namun penggunaan haloperidol pada anak-anak sangat dikhawatirkan khususnya dalam hal efek samping baik dalam jangka waktu pendek maupun pada penggunaan jangka panjang. Tidak seperti haloperidol, penggunaan atipikal antipsikotik yang mampu menghambat reseptor serotonin pasca sinaps yang diharapkan mampu memperbaiki efektivitas namun dengan efek samping gejala-gejala ekstrapiramidal yang lebih baik.

Risperidone yang merupakan salah satu atipikal antipsikotik, merupakan antagonis dopamin (D2), dan serotonin (5HT2A) dan lainnya khususnya pada penggunaan dosis kecil, risperidone diakui mempunyai efek ekstrapiramidal yang relatif kecil jika dibandingkan dengan preparat yang konvensional. Beberapa studi preliminari menunjukkan risperidone efektif dan aman digunakan untuk menurunkan gejala-gejala gangguan perilaku pada populasi studi dengan autisme. Namun apakah data-data dari studi pendahuluan ini juga menunjukkan bukti efektif dan aman jika dilakukan studi klinis dengan disain yang terkontrol, khususnya pada anak-anak ?

Beberapa studi penggunaan risperidone untuk penanganan kasus autisme ini sudah banyak dilakukan, salah satunya adalah studi penggunaan risperidone yang melibatkan sebanyak 101 anak-anak, dengan gangguan autistic, dengan rentang usia antara 5 – 17 tahun. Subyek dalam studi tersebut secara acak diberikan terapi dengan risperidone dosis 0,5 – 3,5 mg per hari atau plasebo sebagai pembanding. Studi ini dilakukan selama 8 minggu, dan memberikan hasil terjadinya penurunan dari skor iritabilitas sebesar 56,9%, dibandingkan dengan yang mendapat plasebo yaitu sebesar 14,1% (p<0,001). Besar perbaikan dari CGI skor dengan derajat baik dan baik sekali adalah sebesar sebesar 69% dan 12% masing-masing untuk risperidone dan plasebo. Risperidone sering dihubungkan dengan penigkatan berat badan, dan dalam studi ini pada kelompok yang mendapat risperidone terjadi peningkatan berat badan sebesar 2,7 ± 2,9 kg, sedangkan pada kelompok plasebo sebesar 0,8 ± 2,2 kg (p<0,01).

Efektivitas risperidone juga ditunjukkan oleh studi yang lain, tuatu studi dengan lama pemberian risperidone yang lebih lama dilakukan terhadap 37 anak-anak dengan autisme (5 – 17 tahun), dengan gejala-gejala perilaku yang agresif, dan tantrum. Total lama pemberian risperidone adalah 6 bulan. Secara umum pada kelompok yang mendapat risperidone terjadi perbaikan dari perilaku pada anak-anak dengan autisme tersebut. Risperidone juga lebih superior dalam hal mencegah terjadinya kekambuhan, yaitu masing-masing 3 dari 12 anak pada yang mendapatkan risperidone dan 8 dari 12 anak dari kelompok plasebo. Namun penggunaan jangka panjang ternyata juga meningkatkan risiko efek samping terutama adalah peningkatan nafsu makan dan berat badan, kecemasan, serta keluhan rasa lelah.

Namun secara umum penggunaan risperidone untuk memperbaiki perilaku pada anak dengan autisme (agresif, tanrum, dsb) menunjukkan efektivitas yang lebih baik daripada plasebo. Penggunaan jangka pendek secara umum mempunyai keamanan yang baik.